Kamis, 06 Juni 2013

Gakkou


Tahun ajaran dimulai setiap bulan April, yang dimulai dengan Nyugaku-shiki, upacara hari pertama masuk berkumpul di aula untuk mendengarkan sambutan dari kepsek. Pelajaran dimulai pukul 08.30 pagi dan berakhir  pada jam 14.30 dari hari senin hingga jum’at. Istirahat makan siang sekitar jam 12, di mana murid-murid membawa bekal bento yan mereka bawa dari rumah atau membeli di kantin sekolah. Setelah jam pelajarna usai murid-murid wajib membersihkan kelas (o shoji) seperti menyapu, mengepel dan menghapus papan tulis. Selesai o shoji mereka boleh pulang atau mengikuti ekstrakulikuler di klub masing-masing, yang disebut bukatsu. 
            Bukatsu di Jepang intinya terbagi 2: klub olahraga dan klub kebudayaan. Kegiatan klub dilaksnakan seusai sekolah dan bisa diteruskan pada liburan sekolah. Bakutsu ini menjadi tumbuh kembangnya hubungan senpai-kohai (kakak-adik kelas). Para senpai wajib menjadi panutan bagi kohai dan para kohai wajib menghormati senpainya. Selain menjadi tempat  bersosialisasi, bukatsu juga mengembangkan bakat dan minat murid-murid.
            Disamping pelajaran akademik para murid di Jepang mengadakan festival olahraga dan budaya (bukansai). Pada festival olahraga diadakan pertandingan dan perlombaan, baik yang serius maupun main-main. festival ditutup dangan api unggun atau dansa bersama. Bukansai biasanya diramaikan dengan acara seni dan kreasi masing-masing kelas seperti memebuka kafe, bazaar, pameran dam pertunjukan seni. Selain festival mereka juga mengadakan study tour dan piknik ke luar kota.
            Umumnya pelajar Jepang memakai seragam sekolah (seifuku), hanya sebagian sekolah dasar mengizinkan muridnya berpakaian bebas. Seragam tiap sekolah berbeda-beda karena menjadi ciri khas dan identitas sekolah tersebut. Murid-murid di Jepang harus memakai sepatu rumah yang disebt uwabaki, didalam sekolah, sepatu luar mereka ditaruh di loker yang disebut getabako, yang bertuliskan nama masing-masing murid. Uwabaki dipakai selama kegiatan di dalam kompleks sekolah tapi untuk diruang olahrag ada sepatu khusus yang disebut taikakan shuzu.
            Yang menjadi kelemahan sistem pendidikan Jepang adalah ujian akhir yang super berat, sampai-sampai disebut shiken jigoku (neraka ujian). Banyak murid yang stress hingga melakukan hal yang negtif atau nekat bunuh diri. Nilai ujian sangat penting supaya bisa melanjutkan ke sekolah yang bagus. Untuk tingkat Universitas yang dinilai adalah hasil ujian masuknya. Untuk mendapat nilai yang bagus, sebagian besar murid-murid mengambil les tambahan di juku atau yobiko. Juku adalah tempat les yang mengajarkan pelajaran sekolah serta non-akademik seperti musik atau seni. Yobiko mengkhususkan diri pada persiapan ujian masuk ke universitas, bahkan ada yobiko yang khusus bagi calon mahasiswa tertentu seperti Universitas Tokyo. Banyak murid yang gagal ujian masuk, tapi masih ingin mencoba lagi tahun depannya. Mereka disebut ronin (sebutan samurai yang tidak bertuan) karena mereka sudah lulus SMU, tapi terus belajar di yobiko sampai lulus ujian masuk universitas atau sampai mereka menyerah.
Sumber: Animonster # 61

0 komentar:

Posting Komentar