Tahun ajaran dimulai
setiap bulan April, yang dimulai dengan Nyugaku-shiki, upacara hari pertama
masuk berkumpul di aula untuk mendengarkan sambutan dari kepsek. Pelajaran
dimulai pukul 08.30 pagi dan berakhir
pada jam 14.30 dari hari senin hingga jum’at. Istirahat makan siang
sekitar jam 12, di mana murid-murid membawa bekal bento yan mereka bawa dari
rumah atau membeli di kantin sekolah. Setelah jam pelajarna usai murid-murid
wajib membersihkan kelas (o shoji) seperti menyapu, mengepel
dan menghapus papan tulis. Selesai o shoji mereka boleh pulang atau mengikuti
ekstrakulikuler di klub masing-masing, yang disebut bukatsu.
Bukatsu di Jepang intinya terbagi 2: klub olahraga dan
klub kebudayaan. Kegiatan klub dilaksnakan seusai sekolah dan bisa diteruskan
pada liburan sekolah. Bakutsu ini menjadi tumbuh kembangnya hubungan senpai-kohai (kakak-adik kelas). Para
senpai wajib menjadi panutan bagi kohai dan para kohai wajib menghormati
senpainya. Selain menjadi tempat
bersosialisasi, bukatsu juga mengembangkan bakat dan minat murid-murid.
Disamping pelajaran akademik para murid di Jepang
mengadakan festival olahraga dan budaya (bukansai). Pada festival olahraga
diadakan pertandingan dan perlombaan, baik yang serius maupun main-main.
festival ditutup dangan api unggun atau dansa bersama. Bukansai biasanya
diramaikan dengan acara seni dan kreasi masing-masing kelas seperti memebuka
kafe, bazaar, pameran dam pertunjukan seni. Selain festival mereka juga
mengadakan study tour dan piknik ke luar kota.
Umumnya pelajar Jepang memakai seragam sekolah (seifuku),
hanya sebagian sekolah dasar mengizinkan muridnya berpakaian bebas. Seragam
tiap sekolah berbeda-beda karena menjadi ciri khas dan identitas sekolah
tersebut. Murid-murid di Jepang harus memakai sepatu rumah yang disebt uwabaki,
didalam sekolah, sepatu luar mereka ditaruh di loker yang disebut getabako,
yang bertuliskan nama masing-masing murid. Uwabaki dipakai selama kegiatan di
dalam kompleks sekolah tapi untuk diruang olahrag ada sepatu khusus yang disebut
taikakan
shuzu.
Yang menjadi kelemahan sistem pendidikan Jepang adalah
ujian akhir yang super berat, sampai-sampai disebut shiken jigoku (neraka
ujian). Banyak murid yang stress hingga melakukan hal yang negtif atau nekat
bunuh diri. Nilai ujian sangat penting supaya bisa melanjutkan ke sekolah yang
bagus. Untuk tingkat Universitas yang dinilai adalah hasil ujian masuknya.
Untuk mendapat nilai yang bagus, sebagian besar murid-murid mengambil les
tambahan di juku atau yobiko. Juku adalah tempat les yang
mengajarkan pelajaran sekolah serta non-akademik seperti musik atau seni. Yobiko
mengkhususkan diri pada persiapan ujian masuk ke universitas, bahkan ada yobiko
yang khusus bagi calon mahasiswa tertentu seperti Universitas Tokyo. Banyak
murid yang gagal ujian masuk, tapi masih ingin mencoba lagi tahun depannya.
Mereka disebut ronin (sebutan samurai yang tidak bertuan) karena mereka sudah
lulus SMU, tapi terus belajar di yobiko sampai lulus ujian masuk universitas
atau sampai mereka menyerah.
Sumber: Animonster # 61
0 komentar:
Posting Komentar