Kamis, 06 Juni 2013

Daruma


Sejak jaman dahulu, boneko sudah menjadi salah satu pelengkap dalam kebudayaan jepang. Sebut saja boneka Hina yang digunakan saat festival Hamamatsuri atau boneka samurai yang dipajang saat perayaan Tango no Sekku. Daruma, boneka yang yang terbialng unik, karena selain tidak memiliki mata, ia juga tidak memiliki tangan dan kaki. Konon nama Daruma di ambil dari nama seorang Bodhidharma yang saat itu ajaranya masuk ke Jepang pada zaman Kamakura (1185-1333).
            “Nana korobi ya oki” (Kalau jatuh tujuh kali, bangun delapan kali). Ungkapan tersebut diajarkan oleh Daruma yang mengadakan perjalanan dari India ke China pada abad ke-6 untuk menybarkan agama Budha Zen. Ungkapan tersebut maksudnya adalah kunci kesuksesan. Bila kita belu m sukses, maka kita harus mencoba dan mencobanya lagi tanpa putus asa. Hingga sekarang ajaran Daruma tersebut sudah menjadi ungkapan yang sangat terkenal oleh orang Jepang. Ada banyak legenda mengenai Daruma, namun yang paling terkenal yaitu legenda yang mengatakan bahwa Daruma bermeditasi di sebuah gua selama 7 tahun tanpa mengedipkan atau pun mengalihkan pandangan matanya. Ada juga yang mengatakan kalau Daruma bermeditasi menghadap ke dinding. Di pertengahan meditasi, Daruma pernah tidur sesaat, sehingga ia memutuskan untuk menggunting kelopak matanya. Kelopak matanya tersebt lalu jatuh ke tanah, dan tumbuh menjadi tanaman teh pertama. Oleh sebab itu upacara Zen di Jepang selalu dikaitkan dengan upacara minum teh untuk menghormati Daruma. Lamanya meditasi mengakibatkan lengan dan kakinya mati rasa, kemudian terlepas dari tubuhnya. Itulah sebab boneka Daruma dibuat tanpa lengan dan kaki.
            Boneka Daruma terbuat dari bubur kertas yang dicampur dengan perekat ini merupakan simbol dari kedisiplinan Daruma saat bersemedi. Lucunya, walaupun kita mencoba mendorongnya dari sisi manapun, daruma akan kembali ke posisinya.
            Boneka daruma dianggap sebagai lambang oleh orang Jepang. Oleh sebab itu, pada umumnya di bagian badan boneka dituliskan huruf “Fuku” yang berarti keberuntungan. Tidak hanya terbatas huruf fuku saja, tapi huruf lain bisa dipakai misalnya huruf “Katsu” yang berarti menang.
            Pada tahun baru, sebelah mata daruma diwarnai sambil mengucapkan harapan kita selama setahun. Apabila harapan sudah terkabul, maka sebelah mata daruma diwarnai pada akhir tahun. Setelah itu daruma biasanya dibawa ke kuil lalu dibakar dalam api unggun dan didoakan oleh biksu dalam sebuah ritual yang dinamakan Daruma Kuyo.
Sumber: Animonster # 66

0 komentar:

Posting Komentar